Senin, 31 Januari 2011

Hargai Para Pemikir Hebat



Begitu banyak jumlah penduduk di Indonesia, berbagai ras, suku dan agama. campur aduk di bumi Indonesia ini diantaranya ada oang - orang yang diberi kelebihan oleh Tuhan, diantaranya para ilmuan indonesia yang berada di luar negeri, yaitu :
 
Ali Khumaeni

Seorang mahasiswa Indonesia yang saat ini belajar di Fukui University di Jepang, menerima penghargaan tertinggi di sebuah konferensi internasional pada 17 September untuk terobosan di bidang spektroskopi laser plasma. Ia menerima penghargaan untuk kertas terbaik pada Konferensi Internasional ke-6 pada Laser-Induced Breakdown Spectroscopy diadakan di Memphis, Tennessee. Konferensi ini merupakan yang terbesar di bidang spektroskopi laser plasma, dan diadakan setiap dua tahun.
 
Lahir di Kendal, Jawa Tengah, Ali mengatakan bahwa dia tidak pernah membayangkan ia akan memiliki kesempatan untuk belajar di Jepang. tapi ketika iya belajar di Universitas Dipenogoro Semarang, ibu kota Jawa Tengah ia bertemu dengan Dosen yang luar biasa yang mengilhami saya untuk mengejar pendidikan tinggi di Jepang. pada tahun 2007 ia menerima beasiswa dari pemerintah Jepang untuk belajar di Universitas Fukui.



Sehat Sutardja
Menjadi orang kaya tak melulu harus menjadi pengusaha. Memiliki otak encer dan berprestasi akademik tanpa terlibat dalam dunia politik pun bisa menjadi jalan untuk menjadi orang kaya. Syaratnya cuma. Jangan berkiprah di Tanah Air. Setidaknya syarat ini diisyaratkan Sehat Sutardja, Nama ini mungkin terdengar asing dan tidak familiar di Tanah Air. Tapi di Amerika Serikat, Sehat adalah cerita sukses perjuangan seorang imigran yang tetap mengagungkan ilmu untuk meraih sukses. Sadar menjadi cerdas di Indonesia tak bakalan dihargai oleh negara.Bersama kakaknya, Pantas Sutardja, Sehat mendirikan Marvell Technology Group, perusahaan yang terdaftar dan go public di indeks bursa Nasdaq New York Stock Exchange. Namanya tercantum dalam majalah Forbes dengan kekayaan bersih 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp. 10 triliun ( kurs Rp. 10 ribu per dolar AS . Ia masuk dalam kategori Exclusive Billioners Club untuk pertama kalinya di tahun 2007.Marvell tercatat sebagai one of the best managed company in America dan menjadi kampium di semi-conductor company top ten list.

Profesor Nelson Tansu
Teknologi nano adalah kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa masa depan. Inovasi-inovasi teknologi Amerika, yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari seluruh orang di dunia, bertopang pada anak anak muda brilian semacam Nelson. Nelson, misalnya, mampu memberdayakan sinar laser dengan listrik superhemat. Sementara sinar laser biasanya perlu listrik 100 watt, di tangannya cuma perlu 1,5 watt.
Penemuan-penemuannya bisa membuat lebih murah banyak hal. Tak mengherankan bila pada Mei lalu, di usia yang belum 32 tahun, Nelson diangkat sebagai profesor di Universitas Lehigh. Itu setelah ia memecahkan rekor menjadi asisten profesor termuda sepanjang sejarah pantai timur di Amerika. Ia menjadi asisten profesor pada usia 25 tahun, sementara sebelumnya, Linus Pauling, penerima Nobel Kimia pada 1954, menjadi asisten profesor pada usia 26 tahun. Mudah bagi anak muda semacam Nelson ini bila ingin menjadi warga negara Amerika.

Muhammad Arief Budiman
Di sebuah ruang kerja di kompleks Orion Genomic, salah satu perusahaan riset bioteknologi terkemuka di negeri itu, seorang lelaki Jawa berwajah “dagadu”—sebab senyum tak pernah lepas dari bibirnya—kerap terlihat sedang salat. Dialah anak Zakaria itu. Pada mulanya bercita-cita menjadi pilot, lalu ingin jadi dokter karena harus berkacamata sewaktu SMP, anak pekerja pabrik tekstil GKBI itu sekarang menjadi motor riset utama di Orion. Jabatannya: Kepala Library Technologies Group. Menurut BusinessWeek, ia merupakan satu dari enam eksekutif kunci perusahaan genetika itu.
Arief tak hanya terpandang di perusahaannya. Namanya juga terkenal di antara rekan sekerja di negara yang menjadi pusat pengembangan ilmu tersebut: menjadi anggota American Society for Plant Biologists dan—ini lebih bergengsi baginya karena ia ahli genetika tanaman—American Association for Cancer Research.

Dan masih banyak lagi para orang hebat yang belajar dan tinggal di luar negeri dan banyak pula alasan mereka memilih luar negeri sebagai rumah dan tempat mereka menyalurkan hasil pemikirannya. padahal mereka adalah para Putra bangsa Indonesia. Tidaklah benar jika kita langsung menyalahkan mereka tapi Bangsa ini harus berkaca terlebih dahulu dan mencari akar permasalahannya dan mencari jalan keluarnya.agar para ilmuan yang bekerja di luarnegeri mau kembali ke tanah air dan mengabdikan ilmu mereka untuk tanah air tercinta.

Maka oleh sebab itu Bangsa ini harus cepat berbenah dan mencoba menghargai para anak bangsa yang memiliki keahlian yang diakui oleh kelas Internasional dan di perhitungkan untuk masa yang akan datang. Bangsa ini harus bangun dan tidak di perbudak oleh para tikus yang terus menggerigoti uang rakyat yang telah kebal hukum. dan Para anggota dewan yang terhormat haruslah sadar mereka telah di pilih oleh rakyat dan mereka mempunyai beban yang sangat berat dari rakyat untuk mewakili aspirasi. jangan hanya mau haknya dan menaggalkan kewajibannya.

Kembali ke topik memang sejak keruntuhan Soeharto seolah olah para ilmuan merasa bahwa mereka tidak ada artinya di Indonesia jangankan untuk mendapatkan pekerjaan pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan dengan gratis dengan cara beasiswa malah mereka harus membayar sejumlah uang untuk membayar uang pangkal yang cukup mencengangkan, padahal mereka mempunyai kecerdasar di atas rata - rata.

semoga bangsa indonesia membuka matanya akan kehadiran para ilmuan yang dapat membantu dan meningkatkan SDM yang ada di bumi pertiwi ini.

Tidak ada komentar: