Kamis, 27 Januari 2011

Birokrasi Dan Kritik Yang Mendobraknya

Prosedur yang berbelit-belit, proses pelayanan yang lamban, mekanisme kerja yang tidak efisien dan kurang efektif, sumber penyalahgunaan kedudukan dan wewenang merupakan simpul-simpul kesan bagi orang awam terhadap terminologi yang disebut “birokrasi”. Kesan tersebut timbul karena orang-orang melihat birokrasi sebagai instrumen negara dan pemerintahan itu dari dimensi realitas.

Apa yang mereka nilai tentang birokrasi berdasarkan pengalaman pada saat mereka berhadapan dengan pola-pola kerja yang sangat tidak :
  §  Efisien
  §  Kurang efektif
  §  Kurang rasional
  §  Belum bisa bersikap netral
  §  Kurang objektif dan fleksibel terhadap suatu perubahan




Sebagai instrumen negara, birokrasi modern seperti yang dikemukakan oleh Max Waber, mempunyai ciri-ciri :

§  Adanya jalur hirarkhi kekuasaan dan wewenang yang jelas dan bertingkat-tingkat
§  Sistem komando tunggal oleh pemegang kekuasaan tertinggi
§  Mekanisme kerja diatur oleh undang-undang dan peraturan, termasuk juga promosi pengangkatan pegawai, gaji, dan sumber penghasilan lainnya bersifat rasional dan impersonal bagaikan mesin.
§  Falsafah dasar organissainya mencapai efisiensi dan efektivitas yang tinggi 
§  Bawahan senantiasa bertanggung jawab kepada atasan atas hasil kerjanya.


¨Yang dimaksud dengan Birokrasi adalah :
 
Þ Secara  luas   ialah  orang-orang  yang  digaji  dan  berfungsi  dalam
       pemerintahan.  Tentu   saja   perwira   angkatan    bersenjata    dan
            birokrasi militer termasuk di dalamnya.
Birokrasi    rasional   Waber   memisahkan    secara   tajam  antara
kantor   dan    sipemegang   jabatan,   kondisi   yang   tepat    untuk
pengangkatan   dan   kenaikan  pangkat,   hubungan   otoritas   yang
tersusun   secara  sistematis antara kedudukan, hak dan  kewajiban
yang diatur dengan tugas, dll.

¨Menurut Lance Castles dalam esainya “Birokrasi dan Masyarakat Indonesia” bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia dekat dengan birokrasi patriimonial, dimana kedudukan dan tingkah laku seluruh hirarkhi sebagian besar tergantung pada hubungan personal kekeluargaan atau patron client.

Bagaimana memperbaiki birokrasi yang rusak ? apakah dibuang saja ? atau sebaiknya dimodifikasi menjadi sesuatu yang baru ? atau diciptakan kembali yang benar-benar baru.

Mengutip Osborne  Ada 10 Model utk mengatasi keadaan, sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Kesepuluh nya menuntut keseriusan yang tinggi dari pemerintah sebagai pemeran utama birokrasi :

§  1. Sebagai  pembuat  kebijakan  pemerintah seharusnya menjadi
             pengarah, dari pada ngotot menjadi pelaksana.

    Misalnya : Dalam  hal  pajak  pemerintah cukup menentukan siapa
                     yang  jadi  wajib  pajak  dan  berapa  besar  kewajiban
                     yang  harus  dibayarkannya,  sedangkan  urusan pemu- 
                     ngutan   diserahkan     sepenuhnya     kepada      pihak 
                     swasta,   tentunya   dengan    sistem  fee  yang   pro-
                     porsional.

§  2. Pemerintah  sebagai   milik  masyarakat  harusnya memberdaya-
         kan   masyarakat.  Jangan   cuma  memperdayainya   saja ,  atau
         sibuk   melayani  mereka   dengan  imbalan tertentu malah  tidak
         tidak   masuk    ke  kas   negara.  Fenomena   uang   pelicin,  uang
         semir,  pungli (pungutan liar)    tentu  tidak  akan  muncul  begitu 
         saja.  Pemerintah  harus  mampu  mengurus  keamanan lingkungan
         an mereka sendiri.

§  3. Pemerintah   sebagai   institusi   yang   hidup  di  era   kompetisi 
              seharusnya  menyuntikkan semangat kompetitif ke benak apara-
              tur pemerintah dan organisasi pelayannannya.

§  4. Unsur-unsur    pemerintah    sebagai    lembaga  yang   bertugas
              mewujudkan misi seharusnya lebih bebas berkreasi.

§  5. Sebagai   pabrik    yang   berorientasi   pada   hasil, pemerintah
              seharusnya   lebih  mementingkanhasil  yang  akan  dicapai, dari
              pada terlalu terfokus pada masukan.

§  6.  Sebagai  abdi  masyarakat,   idealnya   pemerintah    lebih  me- 
               mentingkan    terpenuhinya     kepuasan    masyarakat,    bukan
               sebaliknya.   Untuk   itu  sebaiknya  pemerintah  mulai mengem-
               bangkan   cara-cara   dan   metode-metode   baru  untuk   lebih
               mengetahui  dan memahami harapan masyarkat.

§  7. Sebagai   badan   usaha   pemerintah  harus  jago   mecari  uang,
              jangan   cuma   piawai  membelanjakannya.  Karena  itu cari cara
              yang efektif  dalam mendapatkan sumber  penghasilan baru  dan
              dan  upaya-upaya  kreatif,  inovatif  untuk  menggalakkan  inves-
               tasi    harus    selalu    menjadi   pemikiran   “manejer-manajer”
               pemerintah.

§  8. Selaku   lembaga   yang  memiliki   daya  antisipatif   pemerintah 
              harus  mampu mencegah  timbulnya masalah.

§  9. Sebagai    pemegang    kewenangan    desentralisasi   pemerintah
              seharusnya  menggeser  pola   kerja   hirarkhi  yang   selama  ini
              dianut    kearah   model    kerja   partisipatif  dan   kerja   sama.
              Rantai    operasional    harus    diefisienkan   demi    efektivitas,
              struktur organisasi yang berlapis-lapis harus dirampingkan,  dan
              gugus kendali mutu mesti dikembangkan.

§  10.  Sebagai    pihak    yang   mampu  berorientasi   kepada   pasar,
                 pemerintah  seharusnya   berusaha  mendongkrak  perubahan,
                 lewat penguasaannya terhadap mekanisme  pasar.

Tidak ada komentar: